irvanmumtaza

Penerimaan Mahasiswa Baru Mulai Bulan Mei 2013

In 1 on 15 Mei 2013 at 02:54

Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) membuka penerimaan mahasiswa baru tahun 2013 melalui jalur tes tertulis yang pendaftarannya dimulai Senin (13/5) untuk memperebutkan 90 ribu bangku berbagai program studi di 62 PTN. “Pendaftaran resmi dimulai hari Senin 13 Mei melalui online http://ujian.sbmptn.or.id.

Panitia SNMPTN tahun ini melakukan beberapa perubahan terutama terkait nama kelompok jurusan. Jika tahun lalu panitia membuka kelompok IPA, IPS dan Campuran, maka tahun ini berubah nama menjadi Sosial Humaniora (Soshum), Sain dan Teknologi (Saintek) dan Campuran.

Selain itu panitia juga menaikkan biaya pendaftaran. Untuk kelompok Saintek dan Soshum biaya pendaftaran Rp 175 ribu per calon, sedang untuk kelompok campuran Rp 200 ribu,calon mahasiswa bisa memilih maksimal tiga program studi.

Proses pendaftaran akan berakhir secara serentak pada 7 Juni 2013 pukul 22:00 WIB. Dan ujian tertulis akan dilaksanakan pada 18-19 Juni 2013 serta ujian keterampilan bagi jurusan tertentu pada 20 dan 21 Juni. Sedang pengumuman hasil ujian rencananya akan dilaksanakan pada 12 Juli 2013 melalui online pukul 17:00 WIB dan media cetak pada 13 Juli 2013.

Ada pun siswa yang bisa mendaftarkan diri yakni siswa lulusan SLTA/ setara/paket C tahun 2011 dan 2012 serta siswa pemegang surat keterangan hasil UN SLTA/setara (lulusan) tahun 2013. Selain model Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SMNPTN), Kemdikbud mulai tahun 2013 membuka peluang penerimaan mahasiswa baru melalui pola Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) dan Seleksi Mandiri (SM). Ada 62 PTN terlibat SBMPTN termasuk IAIN Walisongo Semarang, tetapi tidak semua perguruan tinggi melakukan seleksi mandiri.

SBMPTN merupakan mekanisme seleksi masuk PTN yang dilakukan melalui ujian tertulis dan atau keterampilan. Seleksi ditujukan bagi siswa lulusan SMA sederajat tahun 2013 yang tidak lolos melalui jalur undangan pada SNMPTN. Kesempatan ini juga ditujukan bagi siswa yang lulus UN pada tahun 2011 dan 2012.

Akhmaloka menyampaikan, SBMPTN 2013 menerapkan pola baru. Peserta, kata dia, dapat memilih tiga program studi di masing-masing kelompok ujian. Berbeda dengan tahun lalu peserta hanya dapat memilih tiga prodi untuk kelompok ujian campuran.

Seperti sudah berjalan empat tahun terakhir, khusus untuk siswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas namun memiliki potensi akademik memadai dapat mengikuti seleksi. Bantuan biaya pendidikan disediakan oleh pemerintah melalui program beasiswa Bidikmisi. Siswa tetap dapat mengikuti seleksi di semua jalur penerimaan yang diselenggarakan tanpa dibebani pendaftaran.

Kiat Dan Cara Yang Jitu Untuk Hadapi UN

In 1 on 19 April 2013 at 03:49

Menjelang Ujian Nasional (UN) 2013, siswa tahun akhir di berbagai jenjang terus mempersiapkan diri agar dapat menaklukkan berbagai soal yang diujikan.

 

Siapa sangka masalah sepele seperti ketersediaan alat tulis dan ketidakcermatan saat mengisi lembar ujian bisa menjadi awal hari yang tidak menyenangkan.

 

Pengamat pendidikan Saufi Sauniawati membagi kiat yang perlu diperhatikan siswa sehingga sukses melewati ujian menyangkut faktor akademik dan non akademik. Kesiapan akademik terkait dengan mempelajari kisi-kisi ujian melalui latihan, mengulas soal, atau mengikuti bimbingan belajar.

 

“Siswa sebaiknya tidak sekadar menghafal tetapi penguasaan bahan yang akan diujikan. Yang dimaksud pada penguasaan bahan ini bukan sekadar menghafal semua materi yang ada. Namun, agar lebih mudah, biasakan diri berlatih soal untuk mengaplikasikan rumus yang ada dengan tepat,” katanya.
Jauh hari sebelum pelaksanaan UN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Badan Standar Nasional Pendidikan sudah mensosialisasikan kisi-kisi soal ujian nasional (UN) untuk jenjang sekolah dasar, serta satu tautan berisi kisi-kisi soal UN untuk jenjang sekolah menengah pertama dan atas.
Kisi-kisi tersebut diharapkan menjadi acuan para guru untuk memanfaatkan sebagai acuan untuk mengajarkan materi yang sesuai kepada siswanya. Selain melalui situs resmi BSNP dan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdikbud, kisi-kisi akan disosialisasikan melalui dinas pendidikan di masing-masing daerah.
Materi yang dimuat dalam kisi-kisi dan akan menjadi panduan perkiraan soal yang diujikan dalam UN sehingga guru bisa mengarahkan bahan ajar agar lebih fokus.
“Sebaiknya, bahan ajar berdasarkan kisi-kisi tersebut bukan untuk dihafal melainkan dimengerti dengan cara dikupas materinya bersama-sama dengan guru atau kelompok belajar sehingga saat menemukan soal sejenis, pasti tidak ada kesulitan,” jelas Saufi.
Sedangkan nonakademik ini yang sering disepelekan, salah satunya menyangkut alat tulis, yakni jenis pensil dan penghapus yang digunakan saat mengisi lembar jawaban. Bahkan berdasarkan hasil sebuah data studi menyatakan sebesar 25 persen siswa yang tidak lulus UN disebabkan kesalahan nonteknis, seperti melingkari jawaban, lingkaran jawaban yang ganda, atau pensil yang tidak tepat.
“Kesalahannya seperti kesalahan melingkari jawaban, lingkaran jawaban yang ganda atau jenis pensil yang tidak tepat. Kelihatannya sepele, tetapi pengalaman saat melakukan try out membuktikan banyak siswa gagal karena tidak memperhatikan jenis pensil yang harus digunakan, yaitu 2B,” katanya.
Berdasarkan pengalamannya ketika diminta untuk melakukan try out di Kabupaten Cimahi, Kabupaten Bandung, dari 6.200 peserta try out, ada 927 siswa yang lembar ujiannya tidak terbaca.
Saufi juga menjelaskan sebaiknya soal ditadahi dengan alas karena tekanan pada pensil pada saat menghitamkan di lembar jawaban yang langsung bersentuhan dengan meja akan memengaruhi pemindaian. Selain itu memegang pensil juga jangan tegak namun dimiringkan dengan pensil digenggam jempol dan telunjuk dan jari tengah. Alasannya, genggaman pensil juga turut memengaruhi syaraf di otak sehingga mampu lebih konsentrasi.
Bila Persiapan akademik non akademik dirasa cukup, menurut Saufi siswa perlu membagi waktu antara belajar dan melepaskan penat. Saat menjelang UN, anak-anak biasanya belajar tiada henti dan ikut berbagai macam “try out”. “Hal ini akan bermasalah jika tidak ada jeda untuk meregangkan pikiran dan dapat berakibat anak mengalami stress”.

Jangan Putus Sekolah

In 1 on 30 Maret 2013 at 07:41

Dinas pendidikan di seluruh Indonesia diingatkan agar segera membentuk satuan tugas (satgas) antisipasi siswa putus sekolah. “Ayo kita jadikan tahun ini tahun gerakan antiputus sekolah,” ajak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh pada Sosialisasi Kurikulum 2013 di hadapan guru-guru se-DKI Jakarta.

Nuh mengingatkan, sebentar lagi tahun ajaran baru. “Tolong segera bentuk satgas antisipasi siswa putus sekolah di setiap kecamatan dan sekolah. Pastikan anak yang lulus SD dan SMP dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” tuturnya.

Jika program Beasiswa Siswa Miskin (BSM) tidak mencukupi, kata Nuh, pemerintah bersedia membantu mencarikan bantuan kepada pihak lainnya. “Tolong pastikan berapa jumlah siswa kita yang lulus dan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya,” pintanya.

Jika ada kekurangan dari sisi finansial, lanjut Mendikbud, pemerintah bersedia membantu. “Kami akan ajak BUMN memberikan beasiswa agar anak-anak didik kita bisa tetap sekolah. Tahun ini tahun anti-drop out,” katanya.

Nuh mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ada sekitar 1,65 persen siswa SD dan SMP yang harus drop out karena kesulitan ekonomi. Di DKI Jakarta ada 4.000 anak yang tidak melanjut pendidikannya.

Karena itu, menurut Nuh, antisipasi siswa putus sekolah perlu segera dilakukan. “Antisipasi siswa drop out akibat kemiskinan ini harus kita kawal karena hanya dengan pendidikan mata rantai kemiskinan dapat terputus,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto menyatakan akan memperkuat satgas dengan memberdayakan kepala sekolah, wali kelas, dan guru bimbingan konseling (BK).”Kami akan mengoptimalkan guru BK, wali kelas, dan kepala sekolah agar persoalan lain di luar ekonomi yang menjadi penyebab anak putus sekolah dapat terdeteksi,” tuturnya.

Taufik mengungkapkan, pada prinsipnya DKI Jakarta sudah menerapkan perluasan akses terbuka pendidikan bagi siapa saja. Dengan adanya satgas, perluasan akses tersebut akan semakin diperkuat.
“Sebelum ada instruksi satgas, penanganan anak putus sekolah sudah berjalan. Bahkan, tidak hanya bagi mereka yang kesulitan ekonomi tapi juga karena faktor nonekonomi,” jelas Taufik.

Dia menuturkan, jika ada perintah membuat satgas secara kelembagaan maka akan diperintahkan secara langsung suku-suku dinas melalui surat keputusan (SK) atau melalui sosialisasi lewat asosiasi kepala sekolah. “Yang pasti, dengan atau tanpa kelembagaan kami akan tetap mengedepankan penanganan siswa putus sekolah,” ujar Taufik.