irvanmumtaza

Archive for Juni, 2010|Monthly archive page

Orientasi Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan

In 1 on 27 Juni 2010 at 01:02

Arah kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) di antaranya adalah melakukan kajian dan revisi kurikulum pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pembentukan kreativitas dan kewirausahaan. Hal ini nantinya diimplementasikan kepada anak didik sedini mungkin.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiknas Djoko Santoso, mewakili Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, pada Konvensi Pekan Produk Kreatif Indonesia 2010 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Juni 2010.

Pada konvensi yang dipandu oleh Jaya Suprana, ini menghadirkan pembicara Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Deputi Bidang Pendayagunaan IPTEK Kementerian Negara Riset dan Teknologi Idwan Suhardi.

Djoko menyampaikan, Kemendiknas mendukung industri kreatif. Dia menjelaskan, salah satu komponen dari kurikulum pendidikan adalah memasukkan hal-hal yang bersifat inovatif. Misalnya, kata dia, dengan melakukan kegiatan di bidang penelitian untuk menumbuhkan ide-ide. ”Akan ada restrukturisasi dalam kurikulum kita,” katanya.

Kemendiknas, lanjut Djoko, di jenjang pendidikan tinggi mengadakan program kewirausahaan, yaitu program Wirausaha Muda. Para mahasiswa, kata dia, didukung agar ke depan dapat menjadi pengusaha yang berbasis pada industri kreatif dan inovasi. “Kemudian ada program Inkubator Bisnis. Di situ kira-kira secara formal kita mencoba mengembangkan, ” katanya.

Djoko menambahkan, perlu dikembangkan terobosan kreatif dalam mendidik anak. Dia mengatakan, sebagian besar waktu anak adalah di rumah. Oleh karena itu, orang tua dapat mengarahkan anaknya menjadi anak yang kreatif. “Peran keluarga sebetulnya jauh lebih penting ketimbang sekolah,” jelasnya.

Djoko menyampaikan, arah kebijakan Kemendiknas lainnya adalah menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan ekonomi kreatif antar penyelenggara pendidikan. Selain itu, lanjut dia, meningkatkan jumlah dan perbaikan kualitas lembaga pendidikan dan pelatihan formal dan informal, yang mendukung penciptaan insan kreatif dalam pengembangan ekonomi kreatif.

Kemendiknas, kata Djoko, mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. “Tidak kalah penting adalah memfasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama antar insan kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri,” tegasnya.

Iklan

Indonesia Kekurangan Guru 21 Persen

In 1 on 5 Juni 2010 at 01:09

Pendidikan di Indonesia saat ini kondisinya memprihatinkan, karena sekitar 21 persen sekolah dasar di kota kekurangan guru, kata Rektor Universitas Paramadina Jakarta Anies Baswedan. “Kondisi serupa juga terjadi di desa dengan angka kekurangan guru sekitar 37 persen, dan di desa terpencil sekitar 60 persen. Kondisi itu akan semakin parah pada lima tahun ke depan, karena sekitar 75 persen guru sekolah dasar (SD) di Indonesia pensiun,” katanya di Yogyakarta, Jumat.

Oleh karena itu, menurut dia pada diskusi publik mengenai peran pemimpin muda dalam pendidikan, dirinya mencanangkan program bertajuk Indonesia Mengajar.  Melalui program tersebut, dirinya mengajak para pengajar muda untuk bertugas selama satu tahun di SD yang tersebar di lima kabupaten di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.  “Sebanyak 50 pengajar muda akan dikirim ke lima kabupaten, yakni Bengkalis (Riau) Tulang Bawang (Lampung), Passer (Kalimantan Timur), Majene (Sulawesi Barat), dan Halmahera (Maluku Utara),” katanya.

Ia mengatakan untuk memperkuat pendidikan harus dimulai dari pendidikan formal tingkat dasar. Namun, apabila tenaga pendidiknya tidak mencukupi, akan sulit untuk mewujudkan impian tersebut. “Kini saatnya saya mengajak kalangan generasi muda lulusan perguruan tinggi untuk mau berperan menjadi pengajar di wilayah terpencil guna memberikan motivasi dan mimpi kepada anak-anak di pelosok Indonesia agar lebih maju,” katanya.

Menurut dia, pendidikan adalah eskalator bangsa yang akan membawa perubahan terwujudnya Indonesia baru, sehingga mereka yang berada di kelas bawah bisa terangkat derajatnya, dan ikut memengaruhi kebijakan negara.  “Pendidikan merupakan alat yang tepat untuk menaikkan derajat seseorang, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Dengan naiknya derajat seseorang dari sisi sosial ekonomi, bukan tidak mungkin mereka bisa mandiri, dan tidak menggantungkan segala hal pada negara,” katanya.